Umat Biamoma percaya bahwa Tuhan Yesus itu hidup bersama dalam kehidupanya sehari-hari, sehingga Yesus yang lahir seperti Manusia biasa itu menjadi sahabat yang setia dalam kehidupan bersama dalam keluarga dimana keluarga itu, merasa bahagia, salin mendegar satu dengan yang lain, dan saling menghormati. Sehingga itu, menjadi dasar/kekuatan demi melawan suatu musiba yang datang dari bukan rencana Allah yang mauh menjahui dari hadapan Allah bersama Yesus.
Yang herangnya bahwa, musibah itu yang di lakukan oleh sesama Manusia itu sendiri. Mungkin karena mereka tidak mau menerima bahwa kebiasaan umat Biamoma yakni; kebersamaan, saling mendegar satu dengan yang lain, dan saling menghormati tanpa membedakan Orang memulai dari, orang besar, sedang dan kecil. Sehingga di perbuatkan namun, semua usaha yang dapat di dorong oleh setan jahat itu tidak berhasil.
Umat katolik Biamoma yang setia menjalani ajaran Yesus dalam kehidupan sehari-hari maka, umat harus mendirikan satu gedung Gereja. Dan dalam Gereja itulah, umat biamoma selalu dan setia mendegarkan Firman Tuhan dan menjadi sarana untuk berkomunikasi yang Maha pencipta yaitu Allah, dan Maha pembebas dari belengu dosa iyalah, Yesus.
Oleh karena itu, umat biamoma mengambil inisiatif untuk mendirikan satu ajaran yang berpola sebuah gedung (rumah) namanya, Gereja Khatolik Romah. Dan menurut cerita dari para Tua-tua bahwa, pada saat bagunan/Rumah itu sedang bagun, banyak umat yang tidak senag yang tinggal disekitar itu datang untuk menghancurkan/membongkar gedung tersebut, bahkan dipukul dan di bunuh. Tetapi umat biamoma tidak pundar semagat untuk mendirikan gedung tersebut.
Peristiwa itu terjadi pada tahun 1980 kemudian umat biamoma berahasil juga untuk mendirikan gedung tersebut, pertama gedung/gereja itu memiliki empat atap sehingga para umat biamoma mengundan 4 Imam dari OFM dan dalam perjalanan dari pusat paroki Enarotali ke Biamoma itu sagat jauh namun, semagat untuk pewartaan injil tidak pudar maka para misionaris khatolik dapat hadir di biamoma 4 Mei 1983 dan dalam misa pada minggu itu 20 laki-laki dan 10 perempuan di baptis dan menerima komuni kemudian, besoknya para misionaris khatolik itu kembali ke Enarotali lagi.
Kehadiran misionaris itu lah, para umat tidak pudar semagat sebagai berimam pada Gereja khatolik Roma, walaupun di sekitar itu banyak umat dari Kristen Protestan tetapi. Kemudian dari tahun 1987 misionari khatolik datang berkunjung lagi kedua kali di biamoma dalam kunjungan itu, imam tersebut mau menetap di biamoma guna, untuk mau terbentuk saku paroki namun, terkendala dengan transportasi maka umat biamoma membatalkan dan situasi pada waktu itu salin tidak suka dengan kehadiran gereja di wilaya kebo itu dan benar bahwa, Pertama masuk Agama di wilayah kebo itu Kristen Prostestan (Kingmi), dari misionaris Tuan Tus asal Belanda itu, sehingga kebanyakan umat di sekitar itu, menganut Agama Kristen Prostestan.
27 Desember 2016 tertulis sejarah baru bagi umat Katolik Biamoma, karena umat biamoma dapat Quasi (persiapan paroki), di wilayah wedauma terdiri dari 4 stase yaitu, Stase Tuguwai, Stase Deta, Stase Kogenepa, dan Stase Geida. Itulah, tertulis dalam aturan Uskup Keuskupan Timika, dan yang menetapkan oleh Bapa Uskup Mgr, Jhon Pilip Saklil Pr, dapat mengunjugi wilayah wedaumamo yang sulit terjangkau, namun demi pengembala/pewartaan injil Beliau harus dikunjugi.
Mendapat Quasi itu bagus supaya iman kekatolikan tidak pudar dari umat lain, Agama/denominasi lain supaya iman/kepercayaan kepada Yesus melalui kehadiran Gereja khatolik itu tidak punah dalam diri setiap orang yang menimani beragama khatolik bagi umat biamoma dan sekaran banyak cerita gembira yang saya mendegarkan melalui handphone bahwa. banyak Anak muda ialah perang penting dan mengambil bagian dalam pembagunan Gereja Khatolik Quasi Paroki Wedauma.
Penulis adalah Fr. Frans Boga mahasiswa STFT Fajar Timur Jayapuara, Papua
Tidak ada komentar:
Posting Komentar